Wisata Kampung Asli Suku Sasak Di Desa Sade

Di manapun, menculik lalu meminta tebusan adalah perbuatan hina dan rendahan. Siapapun pasti setuju jika pelakunya adalah seorang pengecut yang bisanya menjadikan sandera sebagai alat untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Bahkan seringkali orang dibuat jengkel dengan pelakunya padahal itu hanya adegan dalam sebuah sinetron.

Anehnya, di suatu daerah di belahan Indonesia, justru perbuatan ini dianggap terhormat. Bagi Suku Sasak, menculik gadis anak orang adalah hal yang wajar, bahkan diharuskan. Dan ini bertahan hingga sekarang.

Aku pernah berkunjung ke Desa Sade, tempat di mana Suku Sasak asli tinggal dan masih mempertahankan tradisinya. Desa Sade terletak tak jauh dari bandara. Tempat itu berada di pinggir jalan raya, dan bisa ditempuh hanya dalam tiga puluh menit dari bandara menggunakan kendaraan bermotor.

Saat ini Desa Sade menjadi tujuan wisata bagi orang-orang yang berkunjung ke Lombok. Rata-rata pengunjung yang datang ingin melihat langsung kehidupan masyarakatnya yang masih serba tradisional itu.

Orang Sasak menggunakan kotoran sapi atau kerbau untuk mengepel lantai. Katanya, kotoran itu bisa membuat lantai yang terbuat dari tanah liat itu semakin kuat dan tidak lembab. Mungkin bagi sebagian orang ini menjijikkan. Aku pun juga berpikir seperti itu. Namun tidak bagi mereka. Anehnya, bau kotoran tidak tercium sama sekali saat aku masuk ke rumahnya.

Rumah Suku Sasak terbuat dari anyaman bambu dengan penyangga tiang kayu. Atapnya dari jerami yang dikeringkan. Rata-rata, rumahnya berdaun pintu pendek. Hal itu membuat siapapun yang masuk akan menundukkan kepalanya. Mereka menganggap menundukkan kepala adalah sebuah tanda penghormatan. Bahwa seharusnya setiap orang saling menghormati, dengan dimulai dari hal yang sederhana, yaitu menghormati penghuni rumah dengan menundukkan kepala saat masuk ke dalamnya.

Orang Sasak yang tinggal di desa tersebut rata-rata menjadi petani untuk kalangan prianya. Sementara kaum wanita membuat kain dengan cara menenun yang masih dikerjakan dengan cara dan peralatan tradisional. Bahan yang digunakan juga alami, yang diambil langsung dari pohon-pohon yang tumbuh di sana. Kain-kain itu ada yang dijual langsung, ada yang diolah lagi menjadi selendang, sarung, dan bentuk-bentuk lainnya. Mereka menjajakannya kepada pengunjung yang datang ke desa mereka.

Satu hal yang unik dari Suku Sasak adalah tradisi mereka ketika hendak menikah. Laki-laki Sasak diharuskan menculik pasangannya tanpa sepengetahuan orangtua pihak perempuan jika ingin menikahinya. Dan penculikan ini umumnya dilakukan di malam hari. Keesokan harinya, pihak laki-laki akan mengirim utusan kepada orangtua perempuan untuk memberitahukan jika anaknya telah diculik dan ingin dinikahi. Berdasarkan tradisi, orangtua perempuan yang anaknya berhasil diculik itu harus menikahkan putrinya dengan laki-laki yang berhasil menculiknya.

“Bagaimana jika melamarnya secara baik-baik?” Tanyaku polos saat itu.

Guide yang menemaniku berkeliling desa menjelaskan, “Bagi orang Sasak, hal itu tidak berlaku karena dianggap melanggar tradisi. Bahkan untuk sebagian orang di sana, melamar dianggap menghina dan melecehkan. Jika orang tua perempuan yang dilamar tidak terima, bisa-bisa terjadi pertengkaran.”

Dahulu, penculikan ini terjadi diam-diam sehingga gadis yang diculik harus mau menikah dengan orang yang menculiknya, dan orang tua si gadis terpaksa menikahkan anaknya karena tuntutan tradisi. Namun sekarang sudah mulai berubah.

Si penculik dan sang gadis sudah saling suka sebelumnya. Lantas ketika mereka ingin menikah, mereka membuat rencana penculikan. Si gadis akan berpura-pura ke sumur atau kemana saat malam tiba. Ia meminta ijin agar dibolehkan keluar rumah. Untuk urusan keluar rumah di malam hari bagi gadis Sasak asli bukanlah hal yang mudah sebab tradisi menjaganya dengan ketat. Sehingga sang gadis harus bisa membuat alasan yang masuk akal dan bisa meyakinkan orang tuanya untuk diijinkan ke luar rumah. Nah, saat sang gadis keluar itulah si penculik sudah siap melancarkan aksinya.

Biasanya, sang gadis disembunyikan di rumah si penculik atau di rumah kerabatnya. Selama masa penculikan sang gadis tidak boleh pulang.

Batas pengiriman utusan kepada orang tua sang gadis adalah tiga hari. Dalam rentang waktu itu, selama belum ada jawaban dari orang tua sang gadis, maka sang gadis tidak diijinkan berbicara bahkan bertegur sapa dengan orangtuanya jika seandainya berpapasan di jalan. Jika ketahuan, sesuai adat maka keluarga tersebut harus membayar denda. Wee Wee.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *